Adzan Maghrib pada hari itu serasa tidak biasa-biasa
saja, yah soalnya hari itu merupakan hari terakhir kita berpuasa besoknya insha allah kita lebaran Alhamdulillah. Berasa sedih sedikit
karena tak terasa Ramadhan sudah meninggalkan kita semoga tahun depan kita
dapat berjumpa kembali Amin. Hal yang
paling sering dilakukan di malam keterakhir Ramadhan yaitu menunggu pengumuman
sidang Isbat, tak lama berlangsung langsung ku cek salah satu stasiun TV.
Jelang beberapa menit yaa sekitar 45 menit lah wkwkwk sidang isbat di mulai dan akhirnya keluar keputusan jikalau
Lebaran Idul Fitri 1438 H jatuh pada tanggal 25 Juni 2018. Tak lama kemudian
mulailah bermunculan ucapan minal aidzin
wal faidzin dari hp ku. Dengan momentum lebaran “kembali” ku mengingat
hal-hal apa yang paling kurindukan pada saat lebaran yah seperti burasa, opor ayam, kue-kue, minuman
bersoda beserta hidangan lebaran lainnya. Setelah agak lama menghayal kusegerakan
untuk tidur dengan harapan dapat terbangun sebelum subuh hari supaya bisa dapat
tempat untuk sholat ied. Setelah melaksanakan sholat tak lupa untuk
bermaaf-maaf kebeberapa teman yang kebetulan ketemu dan ingin menyegerakan
untuk pulang kerumah namun tertahan dengan ajakan pengurus masjid untuk kerumah
menyantap hidangan lebaran bersama beberapa teman. Setelah dari kediaman
pengurus masjid sampailah saya ke rumah, tak lupa ku meminta maaf kepada kedua
orang tua dan adik saya. Selang beberapa waktu terdengar suara anak-anak kecil
yang besar dan nyaring seperti ini “Tantee,
mau ka ziarahh!” terlihat gerombolan anak kecil yang mau berziarah ke rumah
yahh tentu saja dipersilahkan kemudian ditawari untuk memakan kue sembari di
ambilkan minuman bersoda warna hitam tutup merah, belum selesai ku buka penutup
toples kue terdengar celoteh salah satu anak kecil “Jangan mi kue kak, uang ta mo....”. Sontak ku terdiam sambil
melihat ibu ku memberikan uang 2000-an edisi terbaru.
Waktu saya masih kecil hal yang paling saya tunggu
dikalau lebaran itu makan burasa sama opor ayam tak terlintas untuk mengucap
kata seperti anak diatas yah tapi kalau langsung diberi sama tuan rumah kami
terima lah. Dewasa ini hari raya lebaran dijadikan lahan untuk mendapatkan uang
secara cuma-cuma bagi anak-anak hanya bermodalkan pakaian baru, keberanian dan
suara yang keras. Tak sedikit hasil yang mereka dapat setelah berziarah kisaran
50.000 hingga 100.000 ribu rupiah. Wahh, untuk kebutuhan anak kecil jumlah
sudah sangat besar namun apalah nilai 100.000 ribu rupiah di era Globalisasi
sekarang. Dipakai bermain 3 kali di WaktuZone
saja sudah habis, belum untuk beli mainan, belum untuk pergi nonton di bioskop
dan belum-belum yang lainnya. Dengan pesatnya gelombang globalisasi di negara
kita menciptakan peluang ataupun lahan bagi para kaum kapitalis untuk menambah
pundi-pundi keuntungannya. Berbagai macam kebutuhan diciptakan sedemikian rupa
agar para anak-anak dapat menghabiskan uang THR *kata kerennya uang ziarah jaman ini setelah uang mereka habis
kembali kerumah untuk minta uang lagi. Tak lupa pula mereka mengabadikan momen
penghabisan uang mereka di social media
agar teman-teman mereka tahu dia sedang apa, alhasil temannya merengek minta
uang keorang tua dengan dalih “banyak
teman ku pergi mauka juga pergi..” Uang tersebut habis dalam jangka waktu
singkat, mungkin bagi mereka kalau saya tidak ikuti ini temanku tidak gaul ka hahahah.
Semakin kesini perubahan sosial budaya semakin
terlihat. Perubahan sosial budaya sendiri dapat dimaknai sebagai perubahan yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat, mencakup perubahan budaya yang di dalamnya
terdapat perubahan nilai dan tata cara kehidupan dari tradisional menjadi
modern. Contoh kecilnya budaya diatas, sejatinya ziarah ditujukan sebagai sarana
untuk mengunjungi saudara semuslim untuk menjalin persaudaraan. Namun ziarah
dimaknai berbeda dengan anak-anak, mungkinkah edukasi dari orang tua yang
kurang? Seharusnya edukasi dari orang tua akan maksud dari ziarah harus
diberitahukan agar sedari dini mereka sudah tahu untuk apa hal tersebut
dilakukan hehe. Namun godaan untuk
megucapkan kata “uang ta mo saja tante...”
sangat luar biasa, kebutuhan untuk pergi bermain di mall, kebutuhan untuk pergi
ke suatu tempat bersama teman, kebutuhan untuk trend dikalangan mereka. Dengan banyaknya kebutuhan, para kapitalis
membuat sedimikian rupa lahan bagi anak-anak kecil untuk menghabiskan uangnya
mungkin contoh kecilnya di bioskop yang jikalau harga tiket di hari biasa akan
naik jika bertepatan dengan hari raya, pembukaan wahana bermain yang penukaran
uang yang jumlah uang ditukar berbanding terbalik dengan koin yang diterima
untuk bermain serta hal lain. Semoga saja tahun-tahun kedepan ada perubahan,
meskipun perubahan tidak akan instan alangkah baiknya jika kita memulainya
dengan saling memberitahukan bisa dimulai dari lingkungan terdekat kita.
Taqabalallahu
minna wa minkum
Minal
Aidin Wal Faidzin.
PS: Anak-anak yang penulis maksud
kisaran SD sampai SMP yang paling sering dijumpai kalau berziarah ke rumah
teman heheheh
Tante, ziarah!
Reviewed by Zuljihad Jibril Rafsanjani
on
02.06
Rating:
Reviewed by Zuljihad Jibril Rafsanjani
on
02.06
Rating:


Tidak ada komentar: