Realism Donquixote Doflamingo arc Dressrosa

Donquixote Doflamingo adalah anggota Shichibukai, kapten Bajak Laut Donquixote, dan juga raja Dressrosa. Ia sebelumnya adalah seorang Tenryubito, namun meninggalkan statusnya dan menjadi bajak laut dengan nilai buruan yang diketahui 340.000.000 berries. Ia adalah antagonis utama dalam cerita Dressrosa. Dressrosa adalah salah satu dari 20 Kerajaan yang melawan Kerajaan Kuno. Keluarga Donquixote awalnya memerintah Dressrosa tapi keluarganya pindah ke Mariejois dan digantikan oleh Keluarga Riku 10 tahun yang lalu, selama masa jabatannya sebagai Shichibukai, Donquixote Doflamingo merupakan tokoh antagonis yang sangat kejam, karena Doflamingo melakukan segala hal sesuai dengan kemauannya, meskipun harus melakukan segala cara. Contohnya waktu Doflamingo ingin merebut kembali Kerajaan Dressrosa, ia melakukan segala cara untuk merebut kembali Kerajaan Dressrosa,  Doflamingo datang ke Dressrosa dan menggulingkan keluarga kerajaan Riku, Raja Riku Dold III sudah melakukan diplomasi dengan Doflamingo, Doflamingo mengiyakan diplomasi tersebut dan meminta uang 1jt Berries untuk membeli negara Dressrosa, Raja Riku Dold III pun pergi ke masyakat untuk meminjam uang, pada perjalanan  Doflamingo mulai menyebarkan benang dari tangannya dan mengendalikan warga untuk saling membunuh, Doflamingo mengandalkan Egoisme nya dan mengesampingkan hati nuraninya ia memasang jebakan boneka puppet ke tubuh masyarakat dan prajurit Raja Riku Dold III. Malam itu menjadi malam tragis di Dressrosa pembantaian terjadi dimana-mana, ayah  membunuh anaknya sendiri, seorang prajurit membunuh masyarakat tak bersalah, . Ia mampu naik takhta karena konsesi dan pengampunan dosa yang diberikan kepadanya dengan kesetiaan kepada Pemerintah Dunia. Dengan demikian, istana dikenakannya smiley dan Bajak Laut Donquixote untuk digunakan di pulau sebagai basis mereka.
Doflamingo juga merekrut Sugar yang memiliki kekuatan untuk mengubah manusia menjadi mainan hidup, menghapus masa lalu mereka dan membuat orang-orang yang dekat dengan mereka lupa siapa mereka. Ia juga menciptakan dua undang-undang ketat yang diikuti: setiap warga negara tidak boleh berkeliaran di luar rumah mereka pada tengah malam, dan manusia dan mainan jangan masuk rumah satu sama lainnya.
Setelah Insiden Punk Hazard, Doflamingo memalsukan pakta dengan Pemerintah Dunia, bersama dengan hak istimewanya sebagai Shichibukai, dan statusnya sebagai seorang raja seharusnya turun tahta, yang menyebabkan gempar ini diperbaiki ketika CP-0 datang untuk melaporkan pemalsuan tersebut kepada warga, menenangkan mereka. Tampaknya beberapa warga yang memiliki banyak rasa hormat dan kekaguman kepada Raja mereka, Donquixote Doflamingo, serta Bajak Laut Donquixote. Donquixote Doflamingo merupakan tokoh antagonis yang sangat kejam, karena Doflamingo melakukan segala hal sesuai dengan kemauannya, meskipun harus melakukan segala cara. Contohnya waktu Doflamingo ingin merebut kembali Kerajaan Dressrosa, ia melakukan segala cara untuk merebut kembali
Warga cenderung menjadi marah ketika raja mereka tidak dihormati atau berbicara buruk tentangnya, dan warga menjadi jijik saat melihat seseorang yang menodai nama Doflamingo. Hal ini disebabkan Doflamingo menipu mereka dengan mengendalikan mantan Raja, Riku Dold III, dalam melakukan tindakan tirani-nya, dan kemudian muncul sebagai pahlawan selama waktu keputus asaan muncul, sementara menjanjikan untuk mengembalikan kekayaan yang diambil oleh keluarga Riku, sambil menjaga mereka dalam kegelapan tentang konversi warganya satu-satu menjadi mainan. Sikap Doflamingo merupakan Contoh Realisme.
Tindakan manusia pasti di dasarkan oleh berpikir. Realisme adalah "spektrum ide"  yang berpusat pada empat ide utama, yaitu grupisme politik, egoisme, anarki internasional, dan politik kekuasaan. Teori realisme politik berawal dari tulisan-tulisanThomas Hobbes dan Niccolò Machiavelli, kemudian muncul sebagai pendekatan berbasis hubungan internasional pada masa selang antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Realis umumnya skeptis tentang relevansi moralitas dalam politik internasional. Hal ini menyebabkan mereka mengklaim bahwa tidak ada tempat bagi moralitas dalam hubungan internasional, atau bila ada ketegangan antara tuntutan moralitas dan tuntuan aksi politik yang amoral maka negara boleh bertindak sesuau dengan moralitas mereka sendiri yang berbeda dari moralitas yang secara umum dianut. Kaum Realis secara umum percaya bahwa tidak ada pemerintah dan kondisi hubungan internasional selalu dalam kondisi anarkis. Salah satu pemikir HI yang muncul jauh sebelum HI itu sendiri berdiri adalah Thucydides. Thucydides  (lahir 460 SM –  wafat 395 SM) adalah seorang sejarawan Yunani dan penulis dari alimos sebuah daerah di wilayah Yunani. Bukunya yang berjudul Sejarah Perang Peloponnesia (The History of Peloponnesian War) menceritakan perang abad 5 sebelum masehi antara Sparta dan Athena. Melalui bukunya tersebut, Thucydides telah dijuluki bapak “sejarah ilmiah”, karena standar yang ketat tentang bukti pengumpulan dan analisis dalam hal sebab dan akibat tanpa mengacu pada intervensi oleh para dewa, seperti buku-buku sejarah lainnya dari era yang sama. Ia juga disebut sebagai ayah dari sekolah realisme politik, yang memandang hubungan antara bangsa lebih berlandaskan kepada Kekuatan daripada kebenaran.
Penulis beropini bahwa pandangan Realis mengenai hubungan internasional yang cenderung bersifat konfliktual memang benar adanya. Seperti yang diketahui, perang dan agresi militer sampai sekarang masih terjadi dimana-mana. Namun penulis kurang setuju terhadap pemikiran Realis yang mengesampingkan soal moral jika menyinggung tentang politik internasional. Karena sejatinya, setiap manusia dibebankan tanggung jawab moral di setiap apa yang dikerjakannya. Jika seorang manusia tidak menghiraukan moral dalam setiap apa yang dikerjakannya, maka dapat dibayangkan akan adanya benturan moral di zaman sekrang. Perdamaian dunia pun sulit untuk tercapai karena dalam perilaku manusia sudah tertanam hal-hal licik yang mengesampingkan moral.
“It's the habit of mankind to entrust to careless hope what they long for, and to use sovereign reason to thrust aside what they do not desire”



Realism Donquixote Doflamingo arc Dressrosa Realism Donquixote Doflamingo arc Dressrosa Reviewed by Zuljihad Jibril Rafsanjani on 00.23 Rating: 5

Tidak ada komentar:


Add Blogspot Emoticon
Diberdayakan oleh Blogger.